Kegalauan menyambangiku malam ini. Malam yang seharusnya jadi malam paling penting untuk hubunganku dengan Eza, mendadak berubah jadi malam paling kelam dan menyedihkan sepanjang sejarah percintaanku. Hari ini tepat dua tahun hubunganku dengan Eza terjalin, hari ini seharusnya kami merayakan second anniversary kami dengan Candle light dinner romantis. Tapi tadi tiba – tiba Eza menelepon dan memberitahu kalau ia sedang sakit. Alhasil batallah acara dinner kami dihari paling penting untuk hubungan kami ini. Beruntung ada Nela sahabatku, yang mengobati kegalauanku malam ini. Ia bilang ingin mengajakku hang out malam ini daripada aku bengong sendiri dirumah.
“ Kenapa kita malah ke cafe ini sih?” Protesku saat menyadari Nela malah membawaku ke cafe yang sudah disebut – sebut Eza akan merayakan Second Anniversary kami yang mendadak batal itu.
“ Lho, emang kenapa?”
“ Cafe ini yang dipilih Eza buat ngerayain anniv aku sama dia. Dengan datang kesini malam ini kamu malah buat aku tambah galau, Nela”
“ Iya.....iya maaf. Tapikan kita udah terlanjur kesini.”
Aku terdiam dan hanya mengikuti langkah Nela, yang sedang sibuk mencari meja kosong. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada meja yang berada tepat didepan air mancur, ada yang terlihat berbeda dari meja ini dengan meja – meja yang lain. Di atas meja terdapat dua buah lilin dan bunga mawar putih didalam vas mungilnya. Agak aneh menurutku, jangan – jangan meja ini sudah dipesan sebelumnya.
“ Kita disini aja ya, kayaknya ini sudut favorit dicafe ini deh. Keliatan beda aja” Jalan pikiran Nela ternyata sangat jauh berbeda dengan pikiranku.
“ Sudut favorit, atau meja ini udah dipesan sama orang sebelumnya” Sahutku sekenanya dan membuatnya mengerutkan dahi, seolah tak percaya.
“ Ah.....ngga mungkin. Buktinya nggak ada yang.........” Kata – kata Nela terhenti saat seorang waiter datang menghampiri kami.
“ Maaf mbak, meja ini sudah dipesan. Ada pasangan yang mau merayakan Anniversary mereka disini” Kata – kata waiter ini membenarkan dugaanku sekaligus kembali mengingatkanku pada Anniversaryku yang batal. Ternyata bukan cuma aku dan Eza yang memilih cafe ini untuk acara special itu.
“ Aku benarkan?” Aku tersenyum puas dihadapan Nela yang terlihat cemberut.
Kamipun pindah kemeja lain, Nela memilih meja yang ada dipojokan yang terletak tak begitu jauh dari meja tadi, aku hanya bisa geleng – geleng kepala melihat tingkah sahabatku sejak SMP ini.
“ Udah Nel, jangan cemberut gitu, toh kita masih dapat meja kosongkan? Mending kita pesan makan aja” Usulku yang tak mau ambil pusing. Karena aku sudah cukup pusing memikirkan Anniversaryku yang batal. Aku membuka menu, dan memilih – milih, menu apa yang akan aku santap malam ini.
“ Ayumi..........itu bukannya Eza” Kata Nela, yang agak ngawur menurutku.
“ Jangan ngawur deh, Nel. Eza kan lagi sakit. Nggak mungkinlah dia keluyuran” Aku masih memilih fokus dengan buku menu tadi.
“ Ayumi, aku nggak mungkin salah liat. Liat deh ke arah meja yang udah dipesan tadi” Melihat Nela yang terlihat sangat ngotot dengan apa yang ia lihat, membuatku terpancing untuk memandang kearah yang sama.
Detak jantungku seolah berhenti, seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat. Nela benar itu Eza, dia tidak terlihat sakit. Dia terlihat baik – baik saja. Dan dia bersama seorang wanita, wanita yang tak asing bagiku. Wanita bernama Bianca, wanita yang pernah ada dimasa lalu Eza. Berbagai pertanyaan muncul dibenakku. Apa yang Eza lakukan bersama Bianca disini? Kenapa Eza berbohong padaku? Kenapa tiba – tiba ia membatalkan acara kami? Apa karena Bianca? Tanpa sadar, air mataku menetes membasahi pipiku, pemandangan ini sukses menciptakan rasa sakit dihatiku.
“ Nel, kita pulang” Ajakku pada Nela, sudah cukup rasanya aku melihat pemandangan yang membuat aku terluka ini.
“ Tapi, kamu nggak mau pergoki dia dulu? Kamu nggak mau tanya siapa perempuan itu?”
“ Nggak perlu. Kita pulang sekarang” Ajakku sambil mengambil tasku, dan melangkah cepat meninggalkan cafe. Nela hanya bisa melongo kebingungan dan mengikuti langkahku yang terus berjalan menuju keluar cafe.
Aku pulang bersama luka yang Eza ciptakan malam ini. Begitu teganya Eza membohongiku dan membatalkan janji kami hanya untuk Bianca, masa lalunya.
Hari ini tepat satu minggu, aku tak menghiraukan semua telepon dan sms dari Eza. Tepatnya setelah peristiwa yang aku lihat dicafe malam itu. Eza pasti marah dan bertanya - tanya karena aku bersikap cuek terhadapnya selama seminggu ini. Tapi buat apa aku peduli, ia juga tak akan pernah mengerti bagaimana sakitnya luka yang ia sebabkan. Hari masih pagi, tapi aku sudah datang ketaman ini. Taman bunga yang berada tak jauh dari rumahku, taman tempat biasa aku menenangkan diri bersama dengan warna warni mawar dan beragam jenis bunga yang lain. Taman yang turut menjadi saksi bisu berawalnya hubunganku dengan Eza. Aku memilih duduk dikursi yang berada tepat dihadapan barisan mawar putih yang berjejer dengan rapi. Perlahan aku menutup mataku dan menghirup udara segar pagi ini, ketenangan itu kembali aku dapatkan, senyumku mengembang seperti mawar putih yang ada dihadapanku kini.
“ Benar dugaanku, kamu ada disini” Kedatangan Eza mengagetkanku. Eza memilih duduk disampingku. “ Kamu kemana aja Ayumi, kenapa telepon dan sms aku nggak ada satupun yang kamu respon? Atau kamu udah bosan sama aku? Atau kamu sedang dekat dengan laki – laki lain?” Tanya Eza bertubi – tubi, hingga aku bingung pertanyaan mana yang harus aku jawab terlebih dahulu.
“ Ayumi, jawab aku” pinta Eza.
Aku menghela nafas panjang dan kemudian menatap jauh kedalam mata Eza, “ Apa aku pernah bilang aku bosan sama kamu, sama hubungan kita? Nggakkan. Dan apa aku pernah bilang ada laki – laki lain selain kamu dihati aku? Nggakkan.” Ucapku perlahan.
“ Terus apa yang buat kamu berubah cuek kayak gini. Jelasin sama aku?” Pinta Eza sambil menggenggam erat jari jemariku.
“ Bianca” Jawabku singkat sembari kembali mengingat peristiwa menyakitkan malam itu. Bulir bening itu, kembali keluar perlahan dari sudut mataku, dan kemudian tumpah membasahi kedua pipiku.
“ Bianca? Dia itu cuman mantan aku, dan kamu tahu itu. Dia cuman masa lalu aku, kamu masa depan aku Ayumi. Nggak ada orang lain dihati aku selain kamu. Udah kamu jangan nangis, aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu” Kata Eza sambil mengusap air mataku dengan kedua ibu jarinya. Terlihat jelas ia sedang berusaha membujuk dan meredakan tangisku. Atau mungkin ini salah satu tipuannya lagi, agar aku percaya dengannya.
“ Dihari Anniv kita, kamu tega membatalkan janji kita hanya untuk dinner bareng Bianca” Ungkapku yang pasti sukses membuat Eza kebingungan. Bingung, bagaimana aku bisa mengetahui semuanya. Dan aku juga yakin saat ini ia sedang memutar otaknya untuk mencari – cari alasan dan menutupi semua kebohongannya lagi.
“ Bianca? Sejak putus sama dia tiga tahun lalu, aku nggak pernah ketemu sama dia lagi, Ayumi. Lagian kan aku udah bilang aku lagi sakit” Eza memang pembohong ulung, bisa – bisanya dia memasang wajah tak bersalah itu dihadapanku.
“ Kamu jangan bohong, Eza. Aku udah tahu semuanya” Ucapku dengan emosi yang kian meluap karena gerah dengan semua kebohongan – kebohongannya padaku.
“ Demi Tuhan, aku nggak pernah nemuin Bianca lagi sejak kita jadian” Eza tetap berusaha menutupi kebohongannya.
“ Cukup Eza, jangan berusaha tutupi kebohongan kamu dengan menyebut nama Tuhan” Kataku pelan, aku tak menyangka ada pria pembohong yang berani bersumpah dengan nama Tuhan untuk menutupi semua kesalahannya.
Eza tak menjawab lagi, ia menundukkan wajahnya, tak berani menatapku yang masih berusaha menahan luapan emosiku terhadapnya. Akupun terdiam, aku tatap pria yang duduk tepat dihadapanku ini. Jujur aku sempat merasa kasihan dengannya yang harus menghadapi kemarahanku hari ini. Tapi akupun tak mungkin membiarkan dan menerima saja dibohongi oleh orang yang aku sayangi terus – terusan. Mau sampai kapan ia membohongiku? Mau sampai kapan hubungan ini dijalani dengan kebohongan yang ia buat?. Rasa kasihan, sakit, kecewa, semua berbaur menjadi satu, membuat air mataku kian mengalir dengan derasnya.
“ Liat aku Eza” Pintaku dengan diiringi deraian air mata. “ Aku benarkan? Kamu ketemu sama Bianca. Iyakan?” Tanyaku sekali lagi.
Mendengar isakanku yang semakin menjadi, Eza pun memberanikan diri menatapku. Ia memang selalu tak tega jika melihatku menangis seperti ini. Tapi bodohnya dia, yang tak pernah berpikir, bahwa setiap tangisanku itu semua karena kelakuannya yang terus saja menciptakan luka dihatiku.
“ Iya, malam itu aku memang ketemu sama Bianca.” Pengakuan Eza, semakin menorehkan luka yang teramat dalam dihatiku.
Aku menghela nafas, berusaha menenangkan diriku dan mencoba untuk kuat menghadapi kenyataan ini, menghadapi rasa sakit ini. “ Kamu tega, Za” Kataku dengan air mata yang terus mengalir dan tak kuasa aku hentikan. “ Aku dengar dari pelayan Cafe kamu udah nyiapin Dinner romantis itu sehari sebelum anniv kita. Kamu nyiapin itu buat akukan? Tapi kenapa Bianca yang malah ada disana sama kamu dihari jadian kita?”
“ Iya, aku nyiapin itu memang buat kamu. Tapi malam itu kebetulan aku ketemu sama Bianca, jadi ya karena udah lama nggak ketemu. Aku ajakin dia dinner sambil ngobrol” Ungkap Eza lebih jauh. “ Ma...maafin aku Ayumi” Kata Eza dengan raut wajah penuh penyesalan.
“ Apa begitu nggak pentingnya aku buat kamu, Za? Apa begitu nggak berharganya hubungan kita buat kamu? Sampai kamu tega ngelakuin ini sama aku?” Tangisku makin menjadi, suaraku kian parau akibat terlalu banyak menangis. “ Apa begitu pentingnya Bianca, masa lalu kamu. Sampai kejutan yang harusnya untuk aku, kamu kasih sama dia, bahkan sampai kamu mengabaikan perasaan aku?” Tanyaku bertubi – tubi menghakimi pria yang aku sayangi ini. Pria yang dulu selalu membawa pelangi dalam hari – hariku tapi kini seolah menciptakan badai berkepanjangan dalam setiap detak jantungku.
“ Aku nggak bisa membohongi perasaan aku sendiri, Ayumi. Kalau sebenarnya, aku masih menyimpan perasaan sayang buat Bianca” Jawaban Eza, seolah petir disiang bolong bagiku.
“ Apa kamu bilang? Kamu masih sayang sama dia? Setelah dua tahun kita jalani hubungan ini, dan.........” Kata – kataku terhenti. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku bingung. “ Kamu anggap apa hubungan kita selama ini, kalau kamu masih dibayang – bayangi sama masa lalu kamu? Bukannya dulu, kamu pernah bilang sama aku, kamu nggak akan pernah bisa sayang lagi sama dia. Tapi buktinya sekarang, apa? Kamu bohong, Za. Kamu bohongin aku selama ini” Tangisku kian menjadi, pria yang telah menemani hari – hariku sepanjang dua tahun ini, ternyata masih belum bisa melupakan masa lalunya, sangat jauh berbeda dengan apa yang ia katakan padaku dulu.
Eza beranjak dari kursinya dan memilih berlutut dihadapanku, menggenggam erat jemariku, Dan menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
“ Kamu balikan lagi sama dia, iyakan?” Tanyaku ingin tahu, dan dengan cepat menepis kedua tangannya.
“ Ma.....maafin aku. Aku bingung.” Eza kembali berusaha menggenggam erat jari jemariku, berusaha keras mendapat maaf dariku. “Aku nggak bisa milih salah satu diantara kalian. Satu sisi, aku sayang kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu, tapi disisi lain aku pengen Bianca hadir lagi dalam kehidupan aku.” Jawaban Eza, cukup mengagetkanku. Bagaimana mungkin ia bisa berpikiran ingin mendua secara terang – terangan seperti itu. Aku yakin bukan hanya aku yang tidak senang, tapi Bianca juga.
“ Aku udah salah menilai kamu selama ini, Za” Ucapku yang masih tak habis pikir dengan pengakuan Eza. Dia yang dulu berkoar – koar tak akan balikan lagi bersama Bianca, nyatanya malah kembali merajut kisahnya bersama wanita itu. Ibarat ludah yang dibuang, dan akhirnya dijilatnya lagi tanpa rasa malu.
“ Kita PUTUS!!” Kataku setelah mengumpulkan tenaga untuk mengucapkan satu kata bermakna menyakitkan itu. Cukup berat rasanya mengakhiri hubungan yang telah terjalin selama dua tahun ini. Tapi akan lebih berat lagi rasanya jika aku tetap ngotot mempertahankannya, aku yakin hanya akan ada rasa sakit yang aku dapatkan dari sebuah hubungan yang dilakoni oleh tiga orang sekaligus. Jadi akan lebih baik rasanya aku mengakhiri semuanya, dan merelakan Eza kembali pada Bianca. Buat apa aku berjuang mati – matian hanya untuk mempertahankan orang yang gagal move on.
“ Aku mohon, aku nggak mau putus dari kamu, aku sayang kamu Ayumi” Bujuk Eza lagi, dengan menggenggam erat tanganku.
“ Kamu nggak dengar aku tadi bilang apa? Kita PUTUS, hubungan kita cukup sampai disini!!!” Ucapku sekali lagi dengan penuh keyakinan.
“ Aku mohon Ayumi, aku nggak mau putus dari kamu”
“ Dan aku juga nggak mau, menjalin hubungan sama orang yang gagal move on kayak kamu” Ucapku lagi.
Eza terdiam, mungkin ia sadar tak ada yang salah dengan kata – kataku. Bagiku ia memang gagal move on dari masa lalunya.
“ Aku permisi” Pamitku dan berlalu pergi.
Eza tetap tak bergeming, ia hanya bisa diam. Mau tidak mau, ia tetap harus menerima dengan sukarela keputusan yang aku buat. Tidak ada yang bisa dipertahankan dengan hubungan yang penuh kebohongan dan masih dibayangi masa lalu. Kekecewaanku membuatku terpaksa mengakhiri semuanya, saat aku ingin berjalan terus ia malah berhenti dan berbalik arah mengejar masa lalunya.
Aku tak ingin menghabiskan waktuku dengan menjalin hubungan dengan orang yang gagal move on. Karena aku tahu, pada akhirnya itu hanya akan menyakitiku, melukaiku, dan mungkin ia akan meninggalkanku. Dan sebelum itu terjadi lebih baik aku melepaskannya lebih dulu. Kembali, taman ini menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan kami. Goodbye pelangiku, goobye Eza.
Hari semakin sore, senja hari ini masih terlihat sama seperti kemarin. Tetap indah dengan langit jingganya. Hanya satu yang membedakan senjaku sore ini, kemarin aku masih bersama pria yang aku sayangi, tapi kini hanya ada aku dan diriku yang harus lebih aku sayangi.
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar